Walikota Tepis Sinyalemen Ketidak Adilan
PKD - Wali Kota Bandung H. Dada Rosada menyatakan, proses sertifikasi terhadap warga punclut sampai saat ini masih terus diupayakan, hal tersebut dutarakan walikota atas adanya sinyalemen bahwa pemkot bertindak tidak adil terhadap warga yang sertifikatnya belum selesai.
"Bukan tidak adil, tapi memang semuanya masih dalam proses," tegasnya.
Manurut Wali Kota, proses sertifikasi sudah sampai ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat mudah-mudahan dalam waktu dekat ada penyelesaian dan proses sertifikasi bisa berjalan cepat.
Namun Wali Kota mengingatkan bahwa proses tersebut bukan lagi kewenangan pemkot “Jika kita sudah cepat kerja tapi yang lainnya lambat, ya tetap saja pengaruh kepada masyarakat," katanya.
Diungkapkannya, untuk mewujudkan keinginan warga tersebut Pemkot sudah membentuk tim pengawas independen yang beranggotakan elemen masyarakat, namun demikian tim independen tersebut keberadaannya dirasakan masih belum memuaskan untuk segera menyelesaikan permaslahan
Selama ini, dari data yang ada rata-rata rumah penduduk dikawasan punclut belum mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB) dan proses sertifikasi yang dupayakan pemkot terhadap warga tersebut belum juga selesai, sehingga walikota memberikan toleransi atas kondisi tersebut.
"Karena proses sertifikasi belum selesai, kita masih bisa menoleransi jika rumah-rumah tersebut tidak ber-IMB," katanya. ADMIN
Selengkapnya...
02 Juli 2010
Sertifikasi Warga Punclut Masih Dalam Proses
29 Juni 2010
Pemkot Bandung Tunggu Balasan Gubernur Soal Nasib Palaguna
Senin, 28/06/2010
Tya Eka Yulianti - detikBandung
Bandung - Kepastian alih fungsi lahan di eks Gedung Palaguna masih belum menemukan titik temu. Pemkot Bandung mengaku masih menunggu balasan Gubernur atas pengajuan pemkot yang meminta ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 40 persen di lahan tersebut.
Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah Kota Bandung Edi Siswadi saat ditemui usai Rapat Banmus di Gedung DPRD Kota Bandung Jalan Aceh, Senin (28/6/2010).
"Kita masih menunggu. Tapi secara prinsip sudah ada saling pengertian antara kedua belah pihak. Antara rencana pemprov dan pemkot tidak lagi ada keinginan yang ekstrim harus dipenuhi," ujar Edi.
Dituturkan Edi, pemkot tidak lagi memaksakan harus dialihfungsikan menjadi RTH sepenuhnya. Sementara itu pemprov disebutkan Edi menginginkan lahan eks Gedung Palaguna menjadi tempat kegiatan bisnis.
"Kalau kita sih inginnya di lokasi itu ada creatif corner, atau art center," katanya.
Edi berharap, pemprov dapat mengakomodasi keinginan pemkot tersebut, setidaknya dengan menjadikan 40 lahan menjadi RTH.
"Semoga keinginan kita bisa terakomodasi, yaitu 40 persen RTH," sebut Edi.
Nantinya, menurut Edi, pemkot tidak akan meminta laba atas lahan tersebut. "Kita hanya memiliki kenikmatan dari sebuah keindahan yang dimiliki karena daerah itu ditata," jelasnya. (tya/avi)
Selengkapnya...
28 Juni 2010
Sekolahnya Asyik Ekskulnya Juga Asyik
Senin, 28 Juni 2010
SMAN 13 Bandung
SEJAK cikal bakal berdirinya sekolah ini, SMAN 13 Bandung, ragam jenis prestasi baik dalam bidang seni dan olahraga terus mewarnai perjalanannya. Saat awal berdiri, sekolah ini sudah melahirkan penyanyi berirama balada yang cukup terkenal saat itu, Ely Sunarya. Berikutnya sekolah ini banyak melahirkan artis, seniman maupun atlet olahraga. Bahkan sekarang tidak sedikit alumni sekolah ini yang menduduki jabatan penting, baik di TNI, pemerintah pusat maupun daerah serta BUMN dan BUMD serta di legislatif.
Menurut Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan, Lukman Wargadinata mewakili Kepsek Dra. Dedeh Suatini, sejak dulu sekolah ini memiliki tradisi mengembangkan setiap potensi yang dimiliki siswa. Karena ruang untuk itu dibuka lebar-lebar, maka siswa di sekolah ini merasa sangat asyik memacu prestasi akademik dan bakat yang dimilikinya, baik melalui jalur pembinaan keorganisasian OSIS, paskibra, PMR, mading, dan Pramuka ataupun beberapa kegiatan ekstrakurikuler seperti bela diri pencak silat Tadjimalela dan taekwondo. Selain seni teater dan olahraga yang terdiri atas basket, futsal, dan voli.
"Untuk kerohanian, terdapat unit Matras (Majelis Taklim SMAN 13), Komputer TIKOR. Sementara yang bersifat keilmuan seperti KPMP (Kelompok Pencinta Mata Pelajaran), English Club, Deutch Club, dan Klinik Mata Pelajaran," tuturnya.
Dengan perhatian yang diberikan sekolah, unit ekskul ini juga mampu menghasilkan sejumlah prestasi. "Ini juga sejalan dengan visi kami, yakni menghasilkan lulusan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berprestasi serta mencintai lingkungannya sebagai bangsa Indonesia, dalam menghadapi persaingan bebas di era globalisasi secara profesional," tambahnya.
Filial SMAN 7
Berbicara tentang SMAN 13 Bandung, tidak akan lepas dari keberadaan SMAN 7 Bandung yang berlokasi di Jln. Lengkong Kecil Bandung. Semula SMAN 13 bernama SMAN Cimindi yang filial SMAN 7 Bandung, didirikan dengan SK No. 0467/0/1977 pada 24 Oktober 1977.
Di awal berdiri, sekolah hanya mempunyai aset guru sebanyak 17 orang dengan murid 5 kelas serta pejabat kepala sekolah sementara yang ditunjuk saat itu Drs. Yahya Hasyim, merangkap sebagai kepala SMAN 7. Kemudian ditunjuk kepala sekolah definitif, Duyeh Effendi, B.A. dari SMAN Cianjur. Karena filial maka kegiatan belajar mengajar saat itu masih menggunakan sarana dan prasarana dan masih berlokasi di SMAN 7.
Tetapi pada 29 September pindah ke lokasi SMAN Cimindi yang sekarang yakni di Jalan Raya Cibeureum No. 52 Bandung. Perkembangan selanjutnya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tentang perubahan nomenklatur SMA menjadi SMU serta Organisasi dan Tata kerja SMU, SMA Negeri Cimindi Kodya Bandung berubah menjadi SMU Negeri 13 Bandung.
Saat ini, SMAN 13 dikepalai oleh Dra. Dedeh Suatini yang dibantu 40 guru. Misi yang diemban adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Kemudian, membina budi pekerti luhur, mengembangkan minat dan bakat peserta didik melalui kegiatan pengembangan diri. Selanjutnya, meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam rangka mendukung peningkatan mutu kependidikan. Serta menggalakkan budaya baca, budaya bersih, budaya belajar, dan budaya kerja melalui kedisiplinan yang tinggi dengan mengondisikan sekolah sebagai wawasan wiyata mandala. Tidak kalah pentingnya adalah mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), pembelajaran berbasis bahasa Inggris serta mengembangkan perpustakaan menjadi electronic library. (rinny rosliany/"GM")**
Selengkapnya...
25 Juni 2010
"Kemaksiatan Harus Dilawan"
Galamedia
Jumat, 25 Juni 2010
Astri Ivo
VIDEO mesum mirip artis yang masih menjadi buah bibir turut mengundang keprihatinan sejumlah kalangan, termasuk Astri Ivo. Artis yang kini lebih sering sebagai pendidik itu menyatakan, kasus pornografi seharusnya menjadi introspeksi bagi setiap pribadi untuk menilai kualitas iman masing-masing.
Menurutnya, apa yang dilakukan setiap insan itu adalah sebuah pilihan yang seharusnya bisa disikapi secara bijaksana. Jangan selalu mencari kambing hitam atas apa yang telah terjadi.
"Perbuatan amoral itu 'kan telah ada sejak berabad-abad lalu. Jadi, bukan peristiwa baru yang sekarang terjadi. Nah, kewajiban kita sekarang adalah memerangi (kemaksiatan). Itu harus kita lawan," tegasnya usai menghadiri sebuah acara di salah satu mal di Bandung, baru-baru ini.
Wanita bernama lengkap Astri Feizaty Ivo ini menambahkan, kasus video mesum mirip artis sudah jadi bencana nasional. Kondisi ini harus menjadi keprihatinan seluruh rakyat Indonesia, khususnya para orangtua. Ia mengimbau para orangtua agar kembali kepada pengasuhan yang benar, dengan mengenalkan anak-anak kepada Tuhannya dengan lebih baik.
"Dulu waktu pengesahan UU Antipornografi, saya turun ke jalan, ikut berdemo meminta pada pemerintah untuk melindungi anak-anak muda kita. Bukannya menghujat terus diam, tapi do something. Harus ada aksi yang melindungi anak-anak kita," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Asri juga menyoroti sikap
kepolisian dalam menangani masalah ini. "Saya berharap aparat bisa lebih tegas dalam menangani kasus ini. Mereka harus bisa membuktikan lalu mengayomi masyarakatnya. Ini tantangan buat mereka," tandas mantan bintang layar lebar kelahiran 21 September 1964 ini.
Terlepas dari masalah tersebut, Astri yang disinggung soal aktivitas di dunia hiburan yang mulai berkurang, mengaku memang porsinya tidak sebanyak dulu. Menurutnya, sebuah profesi dijalani dengan mengalir saja.
"Saya tidak pernah mendatangi atau meninggalkan dunia keartisan. Sudah takdir Allah saja saya lahir dari keluarga seniman. Bagi saya, syuting itu hobi. Asal sesuai dengan syariat, saya masih mau syuting. Ada aja sih yang menawarkan misalnya, Mbak Astri boleh pakai ciput, tapi kalau adegan di kamar kerudungnya dilepas. Ada juga yang menawarkan pakai kerudung, tapi adegannya bunuh diri. Saya bilang enggak bisa, saya 'kan muslimah," tegasnya.
"Lalu orang itu bilang, ya 'kan ini cuma di sinetron. Masya Allah, saya 'kan Islam, tidak bisa seperti itu. Saya di rumah muslimah, di pasar muslimah, syuting juga harus jadi muslimah. Alhasil, film atau sinetron saya sedikit. Bukannya saya sok nolak, tapi saya mau cari rezeki yang berkah," katanya menutup perbincangan. (mza/"GM")**
Selengkapnya...
