Tya Eka Yulianti – detikBandung
Bandung - Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani di Jalan Belitung, Bandung, masih jadi primadona untuk liburan keluarga.
Seperti pada H+1 Lebaran, hingga tengah hari saja sudah 4.000 tiket terjual.
Tercatat hingga pukul 13.00 WIB, Senin (21/9/2009) sudah terjual 4.000 tiket masuk. Jumlah ini jauh melebihi penjualan tiket pada Lebaran sehari sebelumnya yakni 1.450 tiket.
"Tetapi kalau dijumlahkan hari pertama dan hari kedua Lebaran pukul 13.00 WIB, dibandingkan dengan tahun lalu turun hingga 12 persen," ujar Kepala Taman Lalu Lintas Asep Zulkifli.
Pada hari pertama tahun lalu, angka kunjungan mencapai 1.700, sementara pada hari kedua mencapai 6.000 pengunjung.
Asep mengaku tidak tahu mengapa jumlah pengunjung berkurang. Namun ia optimis angka 6.000 tiket akan tercapai. "Walau pun jam satu baru tercatat 4.000 pengunjung, semoga nanti semakin sore jumlahnya bisa mencapai 6.000 bahkan lebih.
Harga tiket masuk yakni sebesar Rp 5.500. Ini sudah termasuk Rp 500 untuk sumbangan ke PMI.
Selama libur Lebaran, jam buka Taman Lalu Lintas ditambah satu jam menjadi mulai jam 08.00-16.00 WIB, dari biasanya tutup pukul 15.00 WIB. Disediakan 4 loket penjualan tiket di dua pintu masuk. Kebanyakan dari pengunjung tidak hanya orang Bandung, tetapi juga dari kota-kota di sekitarnya seperti Majalengka.
Sejak hari Lebaran hingga H+7, selain permainan juga ada live musik. Sementara untuk arena atau fasilitas permainan tidak ada penambahan.
"Sampai saat ini kita punya 11 wahana permainan, tidak ada yang ditambah. Mungkin sarananya saja ditambah, misal balon loncat tadinya cuma satu kini menjadi tiga," lanjut Asep.
Yang menjadi favorite di tempat ini dalah wahana kereta api mini. Terbukti dari total tiket yang terjual hingga tengah hari, 2.000 di antaranya adalah untuk kereta api.
"Memang sejak lama wahana kereta api menjadi favorit pengunjung," lanjutnya.
Untuk bisa menaiki kereta api mini, cukup membayar Rp 3.000 per orang. Rata-rata memang tarifnya sama, kecuali kolam renang sebesar Rp. 4.000 untuk anak-anak dan Rp 1.000 untuk orang dewasa.
Karena pada hari lebaran jumlah pengunjung lebih banyak dan peminat yang naik kereta api mini juga banyak, maka selama lebaran dioperasikan 2 buah kereta api. "Kalau hari biasa, kita hanya pakai satu. Selama lebaran ini kita tambah," ujarnya.(lom/lom)
Selengkapnya...
22 September 2009
Taman Lalu Lintas Masih Jadi Primadona
RAMADHAN BERBUAH KEBAIKAN
PKD = RAMADHAN 1430 H memang telah usai. Perayaan lebaran pun sudah berlalu, meskipun suasananya masih terasa sampai berhari-hari. Terbukti dengan masih banyaknya ucapan selamat lebaran kerap kita dapatkan melalui pesan singkat SMS dari saudara, teman, dan sahabat.
Bila kita perhatikan, antusias masyarakat dalam merayakan lebaran begitu sangat kontras dengan suasana khusu di-hari-hari sebulan sebelumnya dalam beribadat. Suasana penuh suka cita, di hari raya lebaran telah berubah menjadi suasana penuh konsumtif dan eforia. Kegembiraan yang dilampiaskan secara berlebihan seolah telah menjadi tradisi yang tidak bisa tidak, menjadi bagian pelengkap dalam prosesi perayaan lebaran. Pelampiasan dalam segala hal setelah sebulan penuh di rem, menjadi pemandangan sehari-hari, terutama dalam hal etika pergaulan sosial.
Pelaksanakan ibadat selama bulan ramadhan yang penuh kedisiplinan seolah tak berbekas sama sekali. Lihat saja dalam tayangan televisi, kini banyak mempertontonkan gaya hidup hedonisme yang memuja dunia materi dan syahwat, kerap muncul dengan berbagai variannya. Para artis sudah tak canggung lagi untuk mengumbar sensualitas dan keglamoran, padahal sebulan sebelumnya mereka tampil mengisi ruang media dengan atribut kesalehan.
Hawa nafsu sepertinya sudah mendapatkan tempat kembali dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, di kantor bahkan, di sekolah perilaku menyimpang nampak jelas kita temukan ; orang tak mau lagi berbagi dengan saudaranya yang tak mampu, melupakan kesabaran disaat terkena musibah, bahkan kesenangan mendengar dan menonton gunjing atau gosip sudah menjadi keseharian kita.
Perayaan lebaran dalam suasana penuh suka cita memang tak bisa disalahkan tetapi seyogyanya kita tidak melupakan makna dan nilai dari ibadat shaum itu sendiri. Dalam salah satu hadis, Rosulullah bersabda ; “ada dua kegembiraan bagi orang yang shaum, pertama saat dia berbuka dan yang kedua saat Iedul Fitri tiba”. Tentu saja kegembiraan saat Iedul Fitri, bukan diartikan kegembiraan karena sebelas bulan kedepan, tidak ada kewajiban berpuasa dan bebas mengumbar hawa nafsu. Dalam makna yang lebih dalam, kegembiraan tersebut merupakan manifestasi kegembiraan orang yang berpusa atas janji Allah SWT, berupa kesucian layaknya bayi yang baru lahir, ampunan serta pahala surga.
ANTISIPASI DAN PENINGKATAN
Pemaknaan lebaran setelah kita ditempa kedisiplinan dengan membiasakan diri ibadat shaum, mengekang hawa nafsu dan seluruh ibadat lainnya, harus membuahkan antisipasi diri dan peningkatan ibadat serta budi pekerti berupa ; menjaga kesucian diri dan peningkatkan kualitas hidup, karena dibulan selanjutnya tak sedikit kita akan menjalani kehidupan yang penuh tantangan.
Menjaga kesucian diri berarti meninggalkan seluruh perbuatan tercela, baik tingkah laku ucapan atau pikiran. Dalam arti yang luas seluruh kehidupan kaum mukminin dalam sebelas bulan berikutnya adalah cerminan bulan Ramadhan, dimana mereka sekuat tenaga berupaya untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Sungguh, sebelas bulan kedepan kita tidak lagi terjebak dengan istilah ‘ini bulan ramadhan-ini bukan bulan ramadhan‘, seolah bulan selain bulan ramadan, kita bisa berbuat seenaknya mengumbar hawa nafsu.
Buah dari ibadat Ramadhan harus membekas pada pribadi-pribadi mukminin berupa peningkatan kualitas ibadat dan amal salih. Rutinitas shaum, tarawih/qiyamullail sebulan penuh harus tercermin dalam sifat kesabaran dan ketaatan kepada Allah SWT dalam keseharian. Tadarus dan Ittikaf yang didawamkan harus menjadi kebiasaan kita untuk terus bergiat membaca, mencari ilmu dan merenungi seluruh penciptaan Allah SWT, karena seluruh dunia dan isinya merupakan ayat-ayat Allah yang patut kita perhatikan.
Begitupun sifat kedermawanan (filantropik) yang tercermin dalan infak, sidaqoh dan zakat, harus terus ditingkatkan, apalah artinya kita berbuat baik di bulan Ramadhan, jika di sebelas bulan berikutnya kita kikir dan tak mau berbagi. Sebelas bulan kedepan merupakan ladang terbuka bagi para dermawan atau agniya untuk terus berbagi dengan kaum fakir miskin, anak yatim dan dhuafa.
Dengan amal infak, sidaqoh dan zakat berarti kita sudah memberi kesempatan bagi kaum yang kurang mampu untuk memberdayakan dirinya, sehingga kebiasaan tersebut pada akhirnya mampu mengurangi jumlah kemiskinan, yang saat sekarang menjadi problema sosial-ekonomi bangsa-bangsa didunia tak terkecuali di Indonesia.
Dimensi lain dari sikap berbagi tersebut pada dasarnya, ikut berpartisipasi dalam peningkatkan kualitas sumberdaya manusia, karena tak sedikit manfaat dari ibadah ini dalam presfektif sosial maupun sprituil, seperti tersirat dalam salah satu hadis nabi “kemiskinan lebih dekat kepada kekufuran”.
Dalam kontek ini nabi ingin menegaskan bahwa tak sedikit orang menjadi kufur karena dirinya fakir. Oleh karena itu sifat kedermawanan berarti selain memberikan peluang bagi para agniya untuk meningkatkan kualitas hidup sosial, menggapai ridlo Allah SWT juga berperan dalam mencegah orang menjadi kufur, setelah dirinya (orang miskin) terberdayakan oleh kebaikan kaum dermawan.
Dalam hal peningkatan kualitas hidup dan budi pekerti, ba’da ibadah bulan ramadhan salah satu yang tak bisa di lepaskan dalam seluruh ritusnya adalah bersilaturahim dan bermaaf-maafan. Silaturahim dalam model mudik seperti di indonesia merupakan hal sangat lazim, disaat menjelang habisnya bulan Ramadhan. Tapi apapun namanya bersilaturahim dan bermaaf-maafan harus menjadi kebiasaan kita dalam berbagai situasi dan kondisi.
Bersilaturahim berarti menyambung tali kasih sayang dengan orang yang kita cintai dan sayangi tak terkecuali dengan orang yang memusuhi kita. Dalam salah satu hadis riwayat Al-baihaqy, Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah; ”Apakah budi pekerti yang baik itu, ya Rasulullah?. Rasulullah menjawab : Anda hubungi orang yang memutuskan silaturahim denganmu. Anda maafkan orang yang menganiyayamu dan Anda beri orang yang tidak mau memberimu.”
Wallau Alam
Oleh : Aep Alamsyah
Selengkapnya...
19 Agustus 2009
Kritik Sebagai Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
PKD - Hujatul Islam, Al-Ghazali dalam kitab Ihja Ulumudin, bab Amar Maruf Nahi Mungkar menyatakan; “menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah pola agama yang terbesar. Urusan utama inilah tugas pokoknya para Nabi yang diutus oleh Allah SWT”.
Sedemikian besar pentingnya amar maruf nahi mungkar, sehingga Allah SWT mengutus orang-orang khusus (nabi) untuk melakukan tugas tersebut.
Al-Ghazali menekankan, sekiranya urusan Amar makruf dan Nahi Mungkar ini diabaikan teori dan praktiknya, maka tugas kenabian akan terlantar, agama menjadi pudar dan manusia akan surut kembali kezaman jahiliyah dimana merata kesesatan, kebodohan dan kerusuhan dalam segala bidang dan segi kehidupan. Jurang antara pribadi dan pribadi, antara golongan dan golongan akan menganga lebar. Negripun binasa dan umat manusia menderita.
Dalam Syariat Islam Amar makruf dan Nahi Mungkar merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan ibadah kepada Allah SWT. Dalam surat Ali-Imran ayat 104, Allah SWT menegaskan "hendaknya ada diantaramu segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat baik dan melarang dari pada kejahatan, dan mereka inilah orang-orang yang mendapat kemenangan".
Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan amar makruf dan nahi mungkar sebagai kewajiban atas segolongan manusia yang sifatnya fardu kifayah. Artinya bila ada satu golongan atau pribadi yang melaksanakan, maka gugurlah tuntutan tersebut kepada yang lainya. Dan berdosa semua orang dalam satu negeri, jika sama sekali tak ada yang melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar.
Sebagai pola agama yang terbesar Amar Makruf dan Nahi Mungkar atau yang lebih populer disebut 'kritik' merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari, baik dalam rumah tangga, bermasarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sulit kita membayangkan jika satu sama lain diantara kita tidak ada yag saling mengingatkan, atau sama sekali tidak ada berani saling mengingatkan.
Banyak contoh kehancuran negeri/kekuasaan, baik jaman kuno maupun jaman modern kontemporer, diawali dari macetnya saluran-saluran kritik. Yang paling berbahaya jika dalam sebuah negeri, para penguasanya melakukan tidakan reaktif, menolak kritik, tidak mau mendengar kritik bahkan dengan pendekatan bahasa kekuasaan dia membungkam orang-orang berbeda pandangan, tunggulah kehancurannya.
Kritik Bagian Dari Pendidikan Rakyat
Pada saat Pilpres 2009, kita sering mendengar para capres-cawapres kita yang sedang berkompetisi, saling melontarkan kritik. Sepanjang kritik yang ditujukan dilandasi kejujuran, demi memperbaiki bangsa maka sepatutnya kita mengapresiasi hal tersebut, sebagai bagian dari ikhtiar politik mencari yang terbaik untuk masa depan bangsa.
Mengungkapkan kritik bukan berarti mencari-cari kesalahan, karena kritik bertujuan mengungkapkan sebuah kebenaran. Maka kritik harus dilandasi kejujuran untuk mengungkapkan sebuah kebenaran. Itulah kritik yang benar dan dianjurkan oleh syariat. Kritik yang baik selalu berdasarkan fakta dan data. Dengan demikian, kritik berfungsi sebagai sarana pendidikan kepada rakyat.
Kaitan kritik terhadap program kebijakan pemerintah, harus dimaknai sebagai ’input’, agar pemerintah mau memperbaiki kebijakannya. Juga sebagai bagian dari aspirasi agar pemerintah mau mendengar dan mempertimbangkan keinginan masyarakatnya dalam mengambil sebuah kebijakan. Wallahu’alam. ALL
Selengkapnya...
Menjelang Puasa Harga Kebutuhan Merangkak Naik
PKD - Tiga hari menjelang datangnya bulan Ramadan 1430 H, Rabu (19/08) harga kebutuhan pokok di Kota Bandung mulai merangkak naik.
Menurut pantauan Tim PKD dipasar-pasar tradisionil di Kota Bandung, kenaikan harga kebutuhan pokok ini sudah berlangsung 2 hari yang lalu, adapun pasokan dan distribusi kebutuhan pokok masih dianggap stabil.
Menurut para pedagang kenaikan harga kebutuhan pokok ini tak bisa dihindari, karena berlaku hukum pasar. Disaat menjelang bulan puasa ada kecenderungan meningkatnya permintaan kebutuhan pokok, sementara pasokan barang relativ tidak terlalu besar, hal ini memicu kenaikan harga.
Hanya Bisa Pasrah
Konsumen yang umumnya ibu rumahtangga mengaku pasrah dengan kondisi ini. Menurut mereka, kenaikan harga kebutuhan menjelang bulan puasa merupakan peristiwa tahunan, umumnya para ibu rumahtangga tidak mempermasyalahkan asalkan kebutuhan pokok tersebut tersedia alias tidak mengalami kelangkaan.
“Ya habis kita mau apa lagi, kenaikan harga ini-kan berlangsung tiap tahun menjelang bulan puasa, kita pasrah saja, asalkan kebutuhan pokok tidak mengalami kelangkaan”, seru Yati pengunjung pasar Kordon, ketika diwawancara Tim PKD Rabu, (19/08).
Sementara itu para pedagang menanggapi kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut, mereka umunya ikut merasakan keluhan para konsumennya.
“kami juga para pedagang merasakan hal yang sama dengan para pembeli, kenaikan harga ini dirasakan pula oleh para pedagang. Emang harga sudah naik dari sononya”, kata Arifin salah seorang pedagang daging sapi di pasar sederhana bandung kepada Tim PKD.
Pantauan Tim PKD melaporkan, harga daging ayam semula 20-21 ribu/kilo kini naik menjadi 23-24 ribu/kilonya, begitu pula dengan harga daging sapi yang naik dari 56 ribu/kilo kini 57 ribu/kilo.
Adapun harga bahan kebutuhan sayur mayur, telur dan kebutuhan lainnya sama mengalami kenaikan antara 10 – 20 persen. Admin
Selengkapnya...
