30 Mei 2010

Walikota : FO di Dago Tidak Akan Diizinkan Lagi

PKD - Banyaknya kritikan atas beralih fungsinya kawasan (Dago) Jln. Ir. H. Djuanda dari kawasan perkantoran dan perumahan menjadi kawasan bisnis FO, membuat Walikota Bandung H. Dada Rosada angkat bicara. Selain menyalahi aturan tata ruang, tumbuhnya pendirian factory outlet (FO) dikawasan tersebut juga disinyalir tidak mengantongi perijinan yang lengkap.

Menurut sebuah sumber, ada pembangunan tiga FO baru di Jln. Ir. H. Djuanda, untuk itu Walikota mengintruksikan kepada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) dan dinas terkait lainnya agar menunda atau tidak memberikan izin pembangunan serta operasional factory outlet (FO) di sepanjang Jln. Ir. H. Djuanda (Dago).

"Saya sudah nyatakan FO di Dago tidak akan diizinkan lagi. Dan saya sudah minta Pak Ferry (pengusaha FO, red) untuk pindah. Saya arahkan ke Braga serta Cihampelas, dan Pak Ferry mau nurut dan ambil empat toko di Braga. Tujuannya tentu agar Braga lebih maju dari sekarang," kata Walikota H. Dada Rosada, seperti dikutif Galamedia, Sabtu (29/5).

Walikota meminta peninjauan kembali perijinan sampai dengan jabatannya berakir, dia ingin menyelesaikan tugasnya dan membereskan Kota Bandung menjadi lebih tertib, bersih dan indah. "Saya juga menginginkan Bandung sebagai kota yang berestetika dan beretika. Jangan sampai Bandung ini amburadul," tegasnya. ADMIN
Selengkapnya...

Kreativitas Anak Muda Bandung Yang Membanggakan

08.26 by kangdada · 0 komentar
Label: ,

Galamedia
Dapat Pinjaman Rp. 6,5 Juta
TIDAK banyak orang yang berani terjun di industri rekaman hanya karena alasan idealisme terhadap satu jenis aliran musik. Namun, segelintir anak muda Bandung ini boleh jadi adalah pengecualiannya. Bahkan usaha record-nya dapat eksis sampai sekarang dengan bendera FastForward (FFWD) Record.

Pendiri sekaligus pemiliknya adalah Achmad Marin Ramdhani, Didit Eka Aditya, dan Helvi Sjariffudin. Ketiga anak muda ini memang menjadi energi bagi perkembangan dunia musik indie, khususnya di Kota Bandung. Banyak harapan dari band-band indie untuk bernaung di FFWD, agar musik mereka dapat lebih dinikmati pasar dalam negeri maupun internasional.


Saat ditemui di kantornya, Jln. Dr. Setiabudhi Bandung, Marin mengungkapkan, berdirinya FFWD lebih banyak karena dorongan moral. Terlebih lagi Marin pun kala itu masih kuliah dan tanpa fasilitas yang mendukung.

Dikatakan, internet saat itu masih menggunakan Speedy. Bahkan modalnya pun pinjaman dari distributor. Kendati demikian, pada awal berdiri tahun 1999, FFWD hanya merilis sebanyak 1.500 keping untuk 3 artis.

"Terus terang, bisa dibilang modal nekat, karena pada awal berdiri, kami mendapat pinjaman dana Rp 6,5 juta dari distributor untuk 3 artis. Pada masa itu, belum ada keuntungan yang kami peroleh. Hingga 4 album dirilis pun belum dapat keuntungan," katanya.

FFWD mulai menunjukkan titik terang untuk berkembang lebih pesat saat bertemu dengan Mocca pada tahun 2000. "Hingga akhirnya, kami menemukan band Mocca dengan album pertamanya 'My Diary' dan mencetak 120 kaset dan 30.000 CD. Saat itu, kami mulai dikenal pasar dan pencitraan kami sebagai industri rekaman semakin bagus," ujarnya.

Marin menceritakan, pertemuan dengan Mocca kala itu lebih banyak menggunakan feeling. Ia mengaku tidak mengerti banyak soal musik, namun begitu mendengarkan contoh lagu dan musik Mocca, perasaan menjadi lain.

"Lagunya kok mudah diingat dan tanpa sadar saya terus menyanyikan lagu Mocca. Dan saat itu, oke kami akan menggarap albumnya. Ternyata setelah penggarapan album Mocca dan terjual banyak, kami benar-benar terpacu untuk terus berkibar sebagai industri record label," katanya.

Secara personal, katanya, ia tidak mengotak-kotakkan musik indie atau bukan. "Sebenarnya musik indie itu apa sih? Saya juga enggak ngerti musik indie itu apa? Karena yang mengotakkan musik indie atau bukan adalah media. Jadi, FastForward sebenarnya tidak mengotak-kotakkan jenis musik. Yang penting musik itu harus bagus maka dapat kesempatan untuk dirilis di sini," ungkap sarjana ekonomi pembangunan Unpas 1993 ini.

Pria kelahiran Bogor, 29 September 1975 ini mengungkapkan, musik yang bagus adalah yang pintar dan mampu menginspirasi banyak orang. Berani untuk memperdengarkan bunyi dan nada yang baru. Selain itu, suara dan performa musik yang ditampilkan sama persis dengan suara yang didengarkan di CD.

"Kami juga memiliki respek yang tinggi terhadap band yang mampu bergerak tanpa sebuah label. Berarti 'kan tanpa label pun mereka mempunyai semangat dan nanti kita akan melihat performnya seperti apa. Jika layak dan berkualitas maka kami akan menaungi band tersebut," ungkapnya. (cucu sumiati/ "GM")**
Selengkapnya...

28 Mei 2010

Badai Polusi Tebarkan Debu Penyakit!

Galamedia
Oleh: JOHANES KRISMONO

TIBANYA musim kemarau di tengah badai polusi udara Kota Bandung, memicu kekuatan tumbuh kembangnya berbagai macam penyakit akibat cemaran debu. Terjadinya peningkatan kandungan partikulat debu akibat pergantian musim, perlu disikapi dengan berbagai upaya oleh para pengguna jalan sebagai kelompok yang berisiko tinggi terpapar debu jalanan.

Dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. H. Gunadi Sukma Bhinekas, M.Kes., pada masa peralihan musim atau pancaroba biasanya berbagai penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan demam berdarah dengue (DBD) mulai bermunculan. Lebih lanjut dikatakan, salah satu proses yang berperan adalah keadaan di musim pancaroba yang sering menyebabkan terjadinya hujan yang tidak merata. Sementara bagian lain tetap beriklim panas dan dipenuhi debu, tidak sedikit ada kawasan lain yang mengalami hujan deras. Untuk itu, tidak meratanya angin di kawasan hujan tersebut akan mudah menerbangkan debu dan berbagai kotoran yang masih tersisa di kawasan kering dibanding pada musim kemarau (Galamedia, 27 April 2010).

Dalam hal kasus pencemaran udara, debu sering dijadikan salah satu indikator pencemaran yang digunakan untuk menunjukkan tingkat bahaya, baik terhadap lingkungan maupun terhadap kesehatan. Pada saat orang menarik napas, udara yang mengandung partikel akan terhirup ke dalam paru-paru. Debu yang terisap kemungkinan besar membawa penyakit-penyakit yang berasal dari kotoran manusia, binatang, bangkai tikus, dan lain-lainnya yang sudah mengering dan bercampur tanah. Dampak gangguan kesehatan yang ditimbulkan akibat debu, selain gangguan saluran pernapasan adalah iritasi mata, alergi, dan kanker paru-paru.

Berkaitan dengan debu sebagai indikator cemaran polusi udara, dinyatakan pula banyaknya kandungan debu sebagai partikulat debu melayang atau suspended particulate matter (SPM). Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara dan masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan.

Hasil pantauan SPM oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, (http://www.bmkg.go.id), dari beberapa kota besar di Indonesia, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Palangakaraya, Manado, dan lain-lain pada bulan April 2009, rata-rata SPM berkisar antara 17,60 mikrogram/m3/24 jam hingga 211,46 mikrogram/m3/24 jam. Nilai SPM yang tercatat masih berada di bawah nilai baku mutu (230 mikrogram/m3/24 jam berdasarkan PP No. 41/1999), kecuali Bandung yang mendekati nilai ambang batas maksimum.

Khusus Kota Bandung, nilai SPM yang tercatat pada bulan Juni, Agustus, dan September 2009 jauh di atas ambang batas nilai antara 300 dan 400 mikrogram/m3/24 jam. Data pantauan terbaru, nilai SPM kota Bandung pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2010, berkisar pada nilai 100 mikrogram/m3 24 jam, yang tidak berbeda jauh dengan nilai SPM bulan-bulan yang sama pada tahun 2009, dan diprediksi akan mengalami kenaikan di atas ambang batas nilai SPM pada bulan-bulan April, Mei sampai September 2010, sejalan dengan terjadinya perubahan dari musim hujan ke musim kemarau.

Sebuah dilema bagi masyarakat dan pengguna jalan, seperti para pengendara motor, pejalan kaki, polisi lalu lintas, penjaja makanan, dan petugas penyapu jalan yang melakukan kegiatan di sekitar jalan dengan tingkat polusi udara yang tinggi seperti Kota Bandung. Tidak ada pilihan untuk tidak melakukan tindak pencegahan terhadap terpaparnya debu jalanan bila ingin hidup sehat.

Penggunaan masker sebagai penutup mulut dan hidung, selain berfungsi untuk menyaring debu jalanan, juga untuk menangkal bau-bauan tidak sedap dan gas-gas beracun yang dihasilkan asap kendaraan bermotor. Keberadaan masker sering diabaikan pengendara dan pengguna jalan lainnya, karena dianggap merepotkan dan mengganggu kenyamanan. Hal serupa juga berlaku untuk pemakaian kacamata yang berfungsi terhadap pencegahan iritasi dan penyakit mata.

Sekitar akhir bulan Mei dan bulan-bulan berikutnya, sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Kota Bandung akan memasuki musim kemarau. Masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, memberikan nuansa cemaran debu penyakit yang lebih dahsyat dari biasanya, sebagai akibat pengaruh perbedaan tekanan udara dan hujan yang tidak merata.

Demi terciptanya kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas, mari kita sambut tibanya musim kemarau dengan berbagai upaya pencegahan terhadap paparan debu jalanan dengan penggunaan masker, kacamata, dan alat pelindung lainnya selama berkendara, berjalan, dan beraktivitas di jalan raya atau di tempat-tempat lain yang berpotensi terjadinya cemaran debu. (Penulis, alumnus Kimia ITB, pemerhati lingkungan hidup, teknologi pangan, kesehatan, kimia pangan, dan praktisi di industri pangan)**
Selengkapnya...

27 Mei 2010

Sanitasi Buruk, Penyebab Utama Kematian

PKD - Masih lemahnya kualitas sanitasi lingkungan di Kota Bandung dan Indonesia pada umumnya, dikarenakan selama ini pemerintah lebih banyak memfokuskan konsep kebijakan anggarannya kepada program yang bersifat kuratif.

Padahal kontribusi terbesar terhadap terciptanya peningkatan derajat kesehatan seseorang berasal dari kualitas kesehatan lingkungan, artinya melalui program pencegahan berupa kesadaran warga dalam peningkatan kualitas sanitasi lingkungan bisa lebih efektif dari sisi mengurangi penyakit yang berbasis lingkungan dan efisien dalam pemanfaatan anggaran APBD.

Bahkan, dalam cakupan yang luas, rendahnya kualitas kesehatan lingkungan berdampak kepada menurunnya produktivitas kerja warganya selain timbulnya penyakit menular dan faktanya penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia., bisa dibayangkan betapa pentingnya peranan kesehatan lingkungan bagi kualitas sumber daya manusia dan kesehatan warganya.

Dengan prosentase diangka 15 persen kondisi sanitasi lingkungan di Kota Bandung, menandakan bahwa pemerintah Kota Bandung perlu memaksimalkan kembali upaya peningkatan baik secara fisik maupun upaya kampanye penyadaran warganya terhadap kesehatan lingkungan.

Upaya tersebut diarahkan kepada pengadaan fasilitas sanitasi public mencakup perumahan sehat, pembuangan kotoran yang memadai , penyediaan air bersih serta program penyuluhan yang bersifat preventif lainnya. Tentu saja mewujudkannya perlu dukungan perobahan perilaku masyarakat secara melembaga dalam pola hidup bersih dan sehat, dimulai dari sanitasi pribadi. (Dari berbagai Sumber) ADMIN
Selengkapnya...

Kang Dada SHOW

Pernyataan Kang Dada


"PKD - Saya tidak akan segan-segan memberhentikan para pejabat/lurah yang mengelola bawaku pangan, bila terbukti menyalahgunakan"

PKD - "Lakukan Gerakan Revolusioner P4LH bersama warga kota, Tiada hari tanpa menanam pohon, tiada hari tanpa buat sumur resapan, tiada hari tanpa lepas burung"

PKD - "Apapun yang saat ini menurut dewan masih belum baik, maka akan kami perbaiki. Namun semua juga akan dilakukan dengan bertahap. Jadi tidak bisa dilakukan sekaligus," Walikota - Tribun Jabar Online)

PKD - "Pemkot punya 7 program prioritas, ketujuhnya sangat penting untuk masyarakat sehingga memiliki prioritas yang sama. Perbaikan jalan untuk kepentingan umum memiliki priotas sama dengan pendidikan dan kesehatan serta ekonomi," Walikota - Tribun Jabar Online)

PKD - WALI KOTA BANDUNG DADA ROSADA MINTA AGAR PARA PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS)AKTIF MENGHARGAI DAN MENGHORMATI PARA PENSIUNAN. TRIBUN

"ANGGARAN UNTUK PEMBEBASAN LAHAN SUDAH ADA. RTH HANYA NAMANYA, NANTI SEBAGIAN BISA KITA GUNAKAN UNTUK LAHAN PLTSA, YANG LAIN NANTI UNTUK RTH," TRIBUN

Kegiatan Pemkot

"PKD - Kepala BPLHD Dandan Riza Wardhana "Saat kegiatan Car Free Day, pencemaran udara di Jalan Dago menurun secara signifikan," detikbandung PKD - KEPALA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA FERDI LIGASWARA : “MENJELANG DIRGAHAYU KE-200 KOTA BANDUNG, PEMKOT BANDUNG LAKUKAN RELOKASI PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) YANG ADA DI SEPUTARAN ALUN-ALUN KOTA BANDUNG KE BASEMENT ALUN-ALUN” PKD - "KALAU SEKARANG MENDAPATKAN PENGHARAGAAN BEST EFFORT KAMI TENTU MENSYUKURI ITU, TAPI KAMI TIDAK PUAS DENGAN HASIL INI. PENILAIAN HARI INI HARUS MENJADI EVALUASI BESAR-BESARAN BAGI PEMKOT BANDUNG," NANANG SUGIRI WAKIL KETUA KOMISI C DPRD KOTA BANDUNG (Tribun Jabar) PKD - TERKAIT KEBERADAAN FACTORY OULET (FO) BARU DI JALAN IR H DJUANDA NO 92,94, DAN 122 KEPALA BPPT REKOTOMO MENGATAKAN "SESUAI KEBIJAKAN PAK WALI KOTA TIDAK BOLEH MENGELUARKAN IZIN USAHA FO, MAKANYA TAK MUNGKIN BPPT MENGELUARKAN IZIN USAHA," PKD - KEPALA BADAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU (BPPT) REKOTOMO "SAYA TIDAK TAHU BERAPA MINIMARKET YANG TAK BERIZIN TAPI SAYA AKHIR APRIL LALU TELAH MENYERAHKAN DAFTAR MINIMARKET YANG MEMILI IZIN KE SATPOL PP UNTUK DITINDAKLANJUTI, " (TRIBUN) PKD - DINAS KEUANGAN DAN PENGELOLA ASET DAERAH (DKPAD) KOTA BANDUNG MENAKSIR PENDAPATAN DARI SEWA ASET MILIK PEMKOT BANDUNG PADA 2010 MENCAPAI RP 11,3 MILIAR. PENDAPATAN DARI SEWA ASET DI KOTA BANDUNG MASIH RELATIF KECIL. TAHUN SEBELUMNYA, PENDAPATAN DARI SEWA ASET HANYA MENCAPAI RP 8,5 MILIAR. (PR). PKD- KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDUNG, OJI MAHROJI : PENDAFTARAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) TAHUN 2010/2011 MASIH MEMBERLAKUKAN SISTEM KLUSTER. TRIBUN

berbenah menuju jabar

bagaimana pembangunan kota Bandung ; era Kang Dada?

fakta integritas

fakta integritas
BANDUNG ZERO CORRUPTION MOVEMENT